Kalau anda menjawab "YA",apa contohnya?
Apa anda masih belum tahu latah apa yang saya maksud?
Ya,kali ini saya mau mengungkapkan pemikiran saya terhadap penyakit orang Indonesia,yaitu
Latah Pergaulan.
Langsung ke contohnya aja,misalakan :
Si A adalah anak yang biasa biasa saja,si B adalah anak orang punya yang apapun permintaanya pasti dituruti.
Si A dengan si B adalah teman dekat,si A selalu diajak main dengan si B dan teman temannya. Komplotan si B selalu membawa gadget branded , barang barang mewah, dan sebagainya. Tentunya,untuk masuk ke dalam komunitas ini si A merasa dirinya harus minimal harus menyetarai mereka dari segala aspek.
Karena ia merasa kalau dirinya anak yang paling ketinggalan jaman,dan rasa gengsinya yang mulai muncul, suatu hari si A meminta kepada orang tuanya untuk menuruti permintaannya,yaitu minta untuk dibelikan smartphone yang tergolong kelas high-end. Pada saat itu orang tua si A belum memiliki cukup uang,dan meminta si A untuk menahan dulu keinginannya sampai bulan yang akan datang. Si A menolak. Ia ingin permintaannya segera dituruti bagaimanapun caranya.
Kalau tidak,ia akan membolos,dan
Orang tua pasti sayang pada anaknya. Akhirnya orangtua si A membelikan smartphone untuknya karena bosan dengan ocehan yang berisi ancaman si A setiap hari.
Hari demi hari,sifat gengsi si A semakin tidak pudar. Keinginannya harus dipenuhi orangtuanya,karena tidak mau kalah dengan teman temannya. Namanya manusia tidak akan puas selamanya.
Lambat laun,si A yang awalnya adalah orang sederhana,akhirnya termakan oleh gaya hidup si A dan teman temannya yang bermewah mewahan karena perasaan gengsi yang besar,seolah menjadi kerak yang sulit untuk dihilangkan.
Contoh lain : (pakai bahasa non formal)
1. Beli Smartphone,ikut ikutan beli padahal belum menguasai fitur-fiturnya. Ya paling nantinya cuma jadi koleksi museum pribadi alias tidak dipakai lagi.
2. Teman temannya ngefans K-POP , ikut ikutan ngefans padahal belum tahu apa apa tentang K POP
3. Jaman adanya gelang P*W*R B*L*NCE , berapapun harganya dibeli,di pakai,padahal juga belum tahu manfaatnya. Toh,akhirnya perusahaan pemroduksi P*W*R B*L*NCE mengakui jika produknya hanya sebatas gelang biasa,tidak ada efeknya.
4. Banyak yang menggunakan BL*CKB*RRY, ikut ikutan beli, padahal ditanya "pin nya berapa mas/mbak" malah nggak dong. Kecuali ikut ikutan beli tetapi udah tau apa itu BBM terus dipakai setiap hari,salut! memang fungsinya untuk itu.
5. Ke suatu event cuma asal ikut temen,belum tau bener itu event apa,yang penting ikut padahal nggak minat.
dan masih banyak lagi...
Kenapa saya nulis ini? Ternyata latah pergaulan itu banyak kerugiannya untuk masa depan Indonesia,diantaranya :
1. Bangsa kita yang berbudaya ini jadi konsumtif . Itu harus dihindari.
2. Pola pikir kita udah lepas dari kebudayaan kita
3. Anak mulai berani sama orangtuanya
4. Boros uang
5. Bangsa Indonesia lama lama nggak kreatif,cuma asal ikut ikutan dan diperdaya oleh bangsa lain.
6. Pendirian kurang kuat
7. Seseorang bisa "keluar" dari sifat aslinya. Sifat disini maksudnya sifat yang positif.
dan masik banyak lagi...
Bergaul memang perlu,tapi ada batasnya. Latah memang enggak dilarang,tapi jangan keterlanjuran. Latah pergaulan disaring dampak positifya aja,misal biar nggak gagap teknologi.
Dulu saya juga agak latah pergaulan,tetapi baru baru ini ada orang tua teman saya yang curhat sama ibu ibu lain tentang anaknya yang bisa dibilang konsumtif banget,soalnya "ikut ikutan temennya" . Sampai ibu itu kewalahan sama anaknya. Ini fakta dan ada benarnya ( tepatnya 16 Juni 2012 )
Dari situ saya mulai "tersentuh" untuk berubah. Pengen temen temen semua tahu,apa sebenernya efek dari latah itu.
Kalau semua latah,bubar budaya di Indonesia
Demi tuhan,entri ini bukan ditulis untuk menyinggung individu atau yang lainnya,tapi ini untuk kebaikan kita semua.
Mohon maaf bila ada kekurangan & hal yang kurang berkanan bagi anda
Terimakasih atas perhatian anda
Yogyakarta,17 Juni 2012
20.37 - 21.55 WIB
R. Bimanova
NB : Baca ini untuk lebih lengkapnya : http://kem.ami.or.id/2011/12/bukan-bangsa-latah/









